Seminar

Jadi Pemateri Seminar Nasional di Umuslim, Ketum PPTIM Tekankan Pentingnya Kolaborasi

Bireuen – Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim (Umuslim) Peusangan, Kabupaten Bireuen, Aceh menggelar Seminar Nasional bertema “Peran dan Kontribusi Kolaboratif Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim Bireuen Aceh, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Cabang Bireuen, Persatuan Ahli Bedah Indonesia (PABI) Aceh, dan Taman Iskandar Muda Jakarta dalam Penanggulangan dan Mitigasi Bencana Banjir: Tantangan dan Strategi ke Depan”, Senin 9 Februari 2026.

 

Kegiatan yang berlangsung di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim (Umuslim) Bireuen ini dihadiri civitas akademisi, serta mahasiswa.

 

Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah pemateri, yaitu dr. Zumirda, SpB-ET, FINACS, FICS, Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim sekaligus Ketua IDI Cabang Bireuen, Ir. H. Muslim Armas, Ketua Umum Pengurus Pusat Taman Iskandar Muda (PPTIM) serta dr. Syafwan Azhari, SpB-ET, FINACS, Ketua PABI Cabang Aceh.

 

Seminar
Ketua Umum PPTIM Ir H Muslim Armas saat menyampaikan materi pada seminar nasional di Aula Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim, Bireuen, Aceh, Senin (2/9/2026). (Foto: Ihkwati/Kabarbireuen.com)

 

Ketua Umum PPTIM Ir. H. Muslim Arhas, menyampaikan, organisasi yang dipimpinnya kini telah memiliki jaringan luas dengan 55 cabang yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia, termasuk Sorong (Papua) dan Kalimantan Utara (Kaltara).

 

Muslim Arhas menjelaskan, Taman Iskandar Muda yang bertujuan memperkuat kepedulian terhadap kampung halaman, memperluas jangkauan bantuan, serta meningkatkan kesejahteraan anggota dan masyarakat Aceh secara umum.

 

“Misi utama (empat misi besar): Tahiroe Gampong (menjaga desa), Tajunjong Nanggroe (menjunjung tanah air/Aceh), Tapakoe Anggota (menjaga anggota), dan Tapeuluwah Syedara (memperluas persaudaraan),” kata Muslim dikutip dari Kabarbireuen.com.

 

Baca juga: PPTIM Desak Buka Akses Bantuan Asing dan Bentuk Lembaga Khusus Tangani Banjir Aceh

 

TIM mendukung kesejahteraan masyarakat Aceh di perantauan melalui kegiatan sosial, keagamaan (meunasah), dan pembinaan.

 

“Kami ingin jangkauan TIM semakin luas dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat, terutama saat bencana. Prinsip kami, membantu masyarakat harus cepat. Tidak bisa hanya berhenti di rapat dan diskusi,” tegasnya.

 

Ia menekankan, dalam kondisi darurat, TIM tidak menunggu penggalangan donasi dari Jakarta. Bantuan langsung digerakkan menggunakan dana kas internal, sehingga kebutuhan mendesak dapat segera dipenuhi.

 

“Kami langsung beli sembako dan membawanya ke daerah terdampak. Bahkan kami memilih berbelanja di Aceh, dari pedagang Aceh, meskipun harganya sedikit lebih tinggi. Itu bagian dari upaya mendukung ekonomi lokal yang juga terdampak bencana,” jelasnya.

 

Baca juga: PPTIM Surati Prabowo Desak Status Bencana Nasional dan Bentuk Badan Pemulihan Aceh

 

Berbagai bentuk bantuan telah dilakukan TIM, mulai dari pembuatan sumur bor, rehabilitasi fasilitas. Selain itu, TIM juga aktif dalam pengobatan gratis, penyaluran obat-obatan, serta pembagian pakaian layak pakai bagi korban bencana.

 

Dalam upaya menjangkau wilayah terpencil, TIM turut mendukung penyediaan alat komunikasi Starlink di daerah terisolir seperti Aceh Tengah dan Gayo Lues, guna memastikan distribusi bantuan dan koordinasi tetap berjalan.

 

“Kami tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi sangat penting. Apa yang dibutuhkan di lapangan akan kami upayakan untuk dipenuhi, agar aktivitas masyarakat bisa kembali berjalan,” ujarnya.

 

Muslim Arhas juga menekankan pentingnya kesiapsiagaan bencana, mengingat Aceh merupakan wilayah rawan bencana. Menurutnya, perlu adanya standar operasional prosedur (SOP) agar seluruh elemen siap bergerak kapan pun bencana terjadi.

 

Terkait pencegahan, ia menyebutkan bahwa upaya seperti penanaman kembali hutan gundul membutuhkan waktu panjang, bahkan puluhan tahun.

 

“Oleh karena itu, solusi jangka panjang seperti pembangunan bendungan dinilai penting, tidak hanya untuk mencegah banjir, tetapi juga mendukung pengairan pertanian, pembangkit listrik, dan potensi wisata,” kata Muslim.

 

Muslim Armas saat ini memimpin PT Varsindo Kimia Abadi yang berlokasi di Bekasi, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang bahan kimia untuk penjernihan air dan pengolahan limbah.

 

Selain fokus pada industri, perusahaannya juga aktif menjalin kerja sama dengan Universitas Syiah Kuala (USK). Kolaborasi tersebut meliputi pengembangan produk berbasis nilam serta pengolahan dan pengalengan ikan keumamah, sebagai upaya mendorong hilirisasi produk unggulan Aceh dan peningkatan nilai tambah bagi masyarakat.

 

“Kita siap mensupport dan menjalin kerjasama dengan Umuslim,” pungkasnya.

 

Sebelumnya, Ketua Pembina Yayasan Almuslim, Rusyidi Mukhtar, S.Sos membuka secara resmi seminar nasional tersebut.

 

Rusyidi yang juga merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh (DPRA), dalam sambutannya, menekankan pentingnya kolaborasi dan dukungan dari seluruh elemen masyarakat dan pemangku kepentingan terhadap Fakultas Kedokteran Universitas Almuslim yang baru terbentuk.

 

“Fakultas Kedokteran ini masih sangat muda dan membutuhkan support dari semua pihak, baik pemerintah, organisasi profesi, maupun masyarakat, agar ke depan mampu melahirkan tenaga kesehatan yang unggul dan berkontribusi nyata bagi daerah,” ujar mantan Ketua DPRK Bireuen itu.

 

Ceulangiek menyebutkan, Umuslim sebagai kampus wakaf memiliki kedekatan emosional dan sosiologis dengan rakyat.

 

Yayasan akan mendukung pengembangan Fakultas Kedokteran, mulai dari pembangunan rumah sakit pendidikan, peningkatan kualitas SDM, hingga penguatan jejaring nasional dan internasional. 

 

Sumber: Kabarbireuen.com.

Bagikan :

Artikel Lainnya

Seminar
Jadi Pemateri Seminar Nasional di Umuslim, Ketum PPTIM Tekankan Pentingnya Kolaborasi
penyerahan bantuan pijay
Ketum PPTIM Serahkan Bantuan ke Warga Korban Banjir di Pidie Jaya
serahkan bantuan di bireun2
Ketum PPTIM Serahkan Bantuan ke SMPN 1 Bireuen